Gema takbir sudah lewat seminggu lalu, tapi di kepala Piko, suaranya masih beradu dengan dengungan kulkas yang stabil.Setahun lalu, Mei adalah anomali yang memberi warna pada kanvas abu-abu Piko. Sekarang, Sumi kini benar-benar kehilangan maknanya sebagai distraksi, hanya teronggok di sudut rumah.Minyak Kayu Putih berpita biru itu masih ada, namun kini ia berdiri sebagai monumen atas sesuatu yang sudah benar-benar hilang.Pintu itu tetap tertutup rapat; "Utopia" itu kini sedang membangun istananya sendiri dengan orang lain.
Rindu sebagai kata kerja ternyata tetap menjadi beban fisik yang ekstrem. Meskipun nomor Piko diblokir dan semuanya selesai dalam satu klik digital , ritual "menahan diri" ini terasa jauh lebih berat di suasana Lebaran.
Minta Maaf Lahir Batin, Cumi...Di hari yang fitri ini, Piko ingin menuliskan "pesan botol" lagi, meski tahu pantainya sudah ditinggalkan penghuninya:
Maaf atas segala "Noise":
Maaf jika sapaan dan perhatian Piko selama ini hanya terasa seperti gangguan yang harus disingkirkan.
Maaf atas Harapan yang Egois: Piko menyadari bahwa menaruh harapan terlalu tinggi adalah kesalahan Piko sendiri, sebuah penolakan terhadap realitas yang akhirnya berbuah drama.
Maaf karena Gagal Menjadi Manusia: Maaf jika pada akhirnya Piko kembali ke "tempat gelap" itu dan gagal menjadi melodi yang indah untukmu
Selamat Lebaran, Mei. Semoga kamu dicintai, didukung, dan dimuliakan, terlepas dari apapun
0 komentar:
Posting Komentar