Rabu, 11 Februari 2026

Day #101 - Hibernasi

Bekasi malam ini tidak hening; ia terasa mati. Semua pertahanan yang Piko bangun terasa seperti lelucon yang sangat tidak lucu sekarang, apa gunanya tahan-tahan diri gak ketemu, apa gunanya tahan-tahan diri gak ngobrol, toh akhirnya Mei menutup Piko dari hidupnya. 

2 Februari: Mei datang dengan kalimat “dia akan menikah” Belum sempat Piko memproses bagaimana "Utopia"-nya akan menjadi milik orang lain secara permanen, pintu itu tertutup rapat. Nomor Piko diblokir. Tidak ada ruang untuk....... Semuanya selesai dalam satu klik.

3 Februari: Piko kembali ke "tempat gelap" itu. Kabut asap dan ketergantungan yang Piko kira sudah mati kembali menjerat, membuat diri ini mati rasa lagi. Sumi kini hanya teronggok di sudut rumah, kehilangan maknanya sebagai distraksi. Minyak Kayu Putih berpita biru itu masih ada di sana, namun kini ia tidak lagi tampak seperti simbol penerimaan, melainkan monumen atas sesuatu yang mungkin sudah benar-benar hilang.

Piko masih menyimpan chat terakhir itu, sebuah "pesan botol yang terdampar" di pantai yang sudah ditinggalkan penghuninya. Piko masih berharap ada keajaiban di mana centang itu berubah menjadi biru atau setidaknya menjadi dua.

Hancur itu manusiawi, hancur itu manusiawi, rasa ini sementara waktu Hibernasi

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.