Jumat, 07 November 2025

Day#5 - Drama

Piko bangun bukan karena alarm, tapi karena kekosongan. Hening itu berisik; seperti suara ombak yang berhenti mendadak. Aroma kopi instan yang Piko bikin tadi malam masih samar-samar menempel di udara, menolak untuk hilang.

Mau lari Pagi buat hilangin kosong, tapi planet bekasi lagi aneh, Hujan di luar, Piko bikin kopi sambil nonton rintik air, ketukannya pelan Piko gak pernah tau artinya. Lanjut liatin pohon  mangga depan rumah dan Piko bisa melihatnya berdiri di sana, lagi berteduh dan bersenandung seru, senandung yang sama seperti yang Piko ingat waktu tracking beberapa waktu Lalu. 

Di atas meja kecil, tempat Piko taruh HP. Piko gak mau pegang. Buka layar HP sama saja dengan membuka pintu. Piko akan scrolling dan tenggelam dalam galery foto nya. 

Piko dengerin dulu aja bunyi hujan yang berirama datar, lanjut seruput Kopi, rasa pahit yang tak menyenangkan mengisi mulut Piko, seperti tulisan-tulisan yang harusnya tidak pernah ditulis, ucapan-ucapan yang harusnya ditahan, rasa yang harusnya hanya disimpan. Hening. 

Negosiasi kecil dalam otak Piko awalnya hanya seperti dua teman yang ngobrol, makin lama makin menggelegar seperti dua partai oposisi sedang berantem diruang sidang: keberanian melawan kepengecutan, cangkir ke bibir, dan sakit di dada yang harusnya sudah terbiasa karena sudah beranjak 5 hari sejak Piko sadar diri, kini Piko harus terjemahkan kembali untuk diri sendiri.

Piko yang terbiasa dengan ritual ucapan selamat pagi, selamat malam, ingetin jangan lupa makan vitamin, dan makan makanan bergizi sekarang terkunci pada tempatnya seperti laci yang tertutup rapat, akhirnya menjadi tulisan tulisan yang mungkin tidak akan pernah tersampaikan lagi.

Dia punya cara menatap yang membuat Piko merasa sudah memenangkan segalanya. Ketika kami bertemu hanya untuk makan, Piko harusnya tau, bahwa dia sudah pernah memberi Piko ruang. Dua kali rencana bertemu yang dia batalkan harusnya tidak Piko artikan apapun, karena prioritasnya adalah untuk segera mengumpulkan cukup udara untuk dia bernafas saat harusnya dia tinggalkan dunia tempat dia beripijak saat ini. 

Lima hari ini Piko belajar tata bahasa baru: rindu sebagai kata kerja, harapan sebagai sesuatu yang diukur dan dipetakan.Piko lanjut jalan kedapur untuk tarok Gelas kopi, dan mendengarkan dengungan stabil kulkas, seperti dunia yang terlalu keras kepala untuk menyadari siapa yang hilang. Itu adalah metronom tempat Piko hidup sekarang. Piko menarik napas, hanya untuk memastikan Piko masih bisa.

Piko ingin mengiriminya pesan: "Aku merindukanmu."atau sesederhana "Bagaimana kabarmu?" Piko menghapusnya berdiri dan mulai berjalan, langkah pertama terasa canggung, bagaimana bisa pesan sesederhana itu bisa terasa sulit dan berat saat ini. 

Piko pasang sepatu lari, masih pakai baju tidur, buka pintu rumah, dan berlari di Komplek dibawah hujan, lari sekuat tenaga, sampai napas membakar dada. otot protes, dan rasa rindu itu berdegup kencang seiring denyut nadi, seperti tepuk tangan yang terperangkap dalam kepalan tangan. Piko mencatat rekor tercepat berlari 3km pagi ini 8 Menit 23 Detik. Dada rasanya terbakar tapi gak cukup.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.